Marak Disinformasi Medis di Medsos, Dokter RS Columbia Asia Medan Ingatkan Ancaman Stroke Usia Muda

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Tren serangan stroke kini bergeser mengintai kelompok usia produktif di rentang 30 hingga 40 tahun. Selain akibat pergeseran gaya hidup modern, tingginya kasus stroke di usia muda turut dipicu oleh maraknya edukasi keliru dan mitos kesehatan yang beredar di media sosial.

Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Columbia Asia Medan, dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, mengungkapkan banyak pasien yang memutus pengobatan rutin hipertensi secara sepihak akibat terpengaruh informasi menyesatkan di platform digital.

“Banyak pasien menghentikan obat tensi karena mendengar kabar burung di media sosial seperti TikTok dan Instagram yang menyebut obat darah tinggi bisa merusak ginjal. Ini salah kaprah,” tegas dr. Steven.

Ia menjelaskan, kerusakan ginjal justru terjadi akibat kondisi tekanan darah dan kadar gula yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Menghentikan konsumsi obat darah tinggi tanpa pengawasan dokter berisiko fatal memicu serangan stroke sumbatan maupun pendarahan yang berujung pada kelumpuhan permanen.

Meluruskan Persepsi DSA dan Brainwash

Selain mitos obat hipertensi, dr. Steven menyoroti kerancuan pemahaman masyarakat terkait Digital Subtraction Angiography (DSA) yang kerap disamakan dengan prosedur brainwash (cuci otak).

DSA merupakan metode diagnostik terstandar internasional untuk memetakan pembuluh darah leher hingga kepala secara real-time melalui pencitraan bergerak. Tindakan medis dengan DSA ini, ungkap dia, kerap kali dilakukannya pada pasien di RS Columbia Asia Medan. Prosedur invasif ringan ini bekerja menyerupai kateterisasi jantung dan digunakan secara global.

Sementara itu, brainwash atau heparin flushing merupakan bentuk terapi yang dipopulerkan di dalam negeri. Dr. Steven menegaskan bahwa secara etika medis, dirinya berada di posisi netral dan memandang prosedur tersebut sebagai pengobatan berbasis penelitian yang masih berkembang.

“DSA itu pemeriksaan diagnostik terstandar global. Kalau brainwash, saya mengategorikannya sebagai pengobatan berbasis penelitian, sama halnya seperti stem cell. Belum ada bukti riset yang menyatakan itu jelek, tetapi juga belum ada standar bukti klinis global yang menyatakan itu bagus. Keputusan sepenuhnya kembali kepada hak pasien setelah mendapatkan pemahaman yang benar,” terangnya.

Dia menjelaskan stroke saat ini menjadi penyebab kecacatan nomor satu dan kematian nomor dua di dunia. Dalam penanganan stroke akut, ketepatan waktu (golden period) menjadi kunci utama penanganan. Pasien yang mendapat tindakan medis, seperti trombektomi untuk menarik sumbatan pembuluh darah dalam rentang kurang dari 4,5 hingga 24 jam memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari kerusakan otak permanen. Dan tindakan DSA sangat membantu dokter dalam melakukan tindakan medis.

Hospital CEO RS Columbia Asia Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, mengimbau masyarakat untuk tidak menunda evaluasi medis dan rutin melakukan medical check-up guna deteksi dini.

“Pesan kami sederhana: kenali gejalanya, jangan menunda pertolongan, dan percayakan keputusan pemeriksaan maupun tindakan kepada tim medis,” pungkas dr. Stella.

Reporter : Siti Amelia

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Usia Makin Panjang, Manulife Indonesia Dorong Keluarga Bangun Kemandirian Finansial

mimbarumum.co.id - Di tengah usia harapan hidup yang semakin panjang, kemandirian finansial menjadi semakin penting agar setiap individu dapat...