mimbarumum.co.id – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, Kota Binjai tetap setia memelihara denyut sastra yang tak pernah padam. Minggu (23/8/2026), denyut itu berdetak kencang di Sanggar Rumah Cerita Binjai, saat Komunitas Sastra Masyarakat Binjai (KOSAMBI) menggelar acara “Kosambi Cakap Sastra” yang menghadirkan sederet nama besar untuk mengupas warisan dan masa depan sastra di kota wafatnya Raja Penyair Pujangga Baru, Tengku Amir Hamzah .
Acara yang digelar di Jalan Pandega, Gang Pendidikan, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan itu menjadi bukti nyata bahwa ruh kepenyairan Amir Hamzah masih membara di tanah masa kekuasaan Kesultanan Langkat. Tema yang diangkat tak tanggung-tanggung: menyorot eksistensi kesusastraan Binjai dan mengenang sosok Abdul Jalil Sidin serta Tsi Taura, penyair kawakan yang karyanya menjadi khazanah penting sastra nasional.
Dihadiri para pegiat sastra lintas generasi, diskusi dimoderatori Fauziah M. Nur, M.Pd., penggerak literasi dari STKIP Budidaya Binjai. Narasumber pemantik yaitu Dr. Suyadi, S.Pd., M.Si. peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Shafwan Hadi Umri, M.Hum., dan jurnalis Hujan Tarigan.
Secara khusus, Dr. Suyadi yang merupakan pendiri KOSAMBI bersama Tsi Taura, M. Yunus Tampubolon, dan Saripuddin Lubis, turut hadir secara virtual melalui Google Meet dari Bogor. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya regenerasi dan pendokumentasian karya sebagai upaya menjaga warisan leluhur.
“Kita tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Tengku Amir Hamzah telah memberi fondasi, tugas kita adalah terus membangun lantai-lantai berikutnya. Sastra Binjai harus terus bergerak dan memberikan warna bagi kesusastraan Indonesia,” ujar Suyadi.
Suasana semakin semarak dengan hadirnya tokoh budayawan Binjai, H. Adi Mariadi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap konsistensi KOSAMBI dalam memajukan sastra.
“Binjai adalah Kota Kebudayaan. Semangat ini harus terus kita jaga bersama. Saya sangat mendukung penuh kegiatan-kegiatan literasi seperti ini,” tegasnya, yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses dan pendiri RM Kebun Pondok Punokawan serta restoran Warung Anak Desa di Binjai.
Puncak acara diisi dengan penampilan musikalisasi puisi yang memukau dari Komunitas Rumput Hijau, yang merupakan ekstrakurikuler sastra SMA Negeri 2 Binjai. Dengan alunan musik yang syahdu, para siswa membawakan puisi-puisi karya Abdul Jalil Sidin dan Tsi Taura, seolah menghidupkan kembali semangat kedua penyair yang telah tiada. Penampilan ini menjadi bukti bahwa regenerasi sastra di Binjai berjalan dengan dinamis melalui komunitas-komunitas sekolah.
Topik diskusi mengerucut pada pengenangan terhadap Abdul Jalil Sidin (1929–2003). Penyair kelahiran Binjai ini dikenal dengan gaya puisinya yang santun dan terikat pada tradisi Pujangga Baru. Shafwan Hadi Umri, yang turut hadir sebagai narasumber, membagikan memori pribadinya bersama almarhum.
“Pak Jalil adalah sosok yang integral, satunya kata dengan perbuatan. Ia seorang guru yang bijaksana dan mengutamakan keteladanan,” kenangnya. Sebuah cerita humor tentang pengalaman “mencuri baca” buku di masa kecil yang diceritakan Jalil Sidin di festival sastra tahun 1978 lalu mengundang tawa dari peserta diskusi.
Puisi-puisi karya Abdul Jalil Sidin yang sarat akan kritik sosial dan kepedulian terhadap lingkungan, seperti dalam puisi “Ciliwung Sungai Deli”, masih terasa relevan hingga hari ini, mengingatkan pada isu pencemaran dan kerusakan alam yang tak kunjung usai.
Acara “Kosambi Cakap Sastra” ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. KOSAMBI, yang berdiri pada 16 Februari 2019, telah berhasil menjadi wadah bagi sastrawan senior dan muda untuk berkarya. Kehadiran Sanggar Senja Insani (SENSANI) di STKIP Budidaya Binjai pada Juni 2026 lalu juga turut memperkaya ekosistem sastra di kota ini .
Dengan adanya dukungan dari para budayawan, akademisi, jurnalis, dan yang terpenting, semangat generasi muda yang tergabung dalam komunitas sekolah, masa depan kesusastraan Binjai tampak cerah. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Suyadi, sastra di Binjai bukan sekadar kenangan, melainkan identitas budaya yang terus bergerak dan menginspirasi.
• Zaim Dzaky Sanjaya


