Sanggar Anak Deli Company Terapkan HAMC, Hadirkan Ruang Seni yang Aman bagi Anak

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Setelah lebih dari satu dekade menjadi rumah bagi anak-anak kreatif di Kota Medan, Sanggar Anak Deli Company kini memasuki fase transformasi penting. Komunitas seni yang berdiri sejak 12 Februari 2012 ini resmi menerapkan program penguatan kapasitas bertajuk Humanistic Arts Management for Children (HAMC), sebuah pendekatan manajemen seni yang berpusat pada perlindungan dan penghormatan terhadap hak anak.

Program ini merupakan inisiasi kolaboratif dari para dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) dan Universitas Teuku Umar, yakni Ayu Nadira Wulandari, M.I.Kom., Fitriani Lubis, M.Pd., Aqsa Mulya, M.Pd., serta T. Jalaluddin, M.M. Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, serta difasilitasi oleh LPPM Unimed.

Selama bertahun-tahun, Sanggar Anak Deli Company telah melahirkan puluhan pementasan di berbagai panggung bergengsi, mulai dari Taman Budaya Sumatera Utara, Taman Ismail Marzuki, hingga tampil di hadapan Presiden RI pada acara Rembuk Kemerdekaan 2023. Namun, di balik gemerlap prestasi, tim pengabdian melihat adanya celah sistemik yang perlu segera diatasi.

“Kami menemukan bahwa selama ini kegiatan latihan dan pementasan berjalan dengan mengandalkan dedikasi moral para pengelola. Namun, tanpa standar operasional dan mekanisme perlindungan yang jelas, interaksi intensif antara anak dan pelatih dalam seni pertunjukan—yang melibatkan ekspresi tubuh, vokal, dan emosi—berisiko menjadi celah pelanggaran batas personal, meskipun tidak disengaja,” ujar Ayu Nadira Wulandari, M.I.Kom., selaku ketua tim pengabdian.

Ia menegaskan, program ini hadir bukan untuk menghakimi praktik yang selama ini berjalan, melainkan untuk membangun sistem yang melindungi semua pihak. “Anak bukan objek produksi seni. Mereka adalah subjek manusiawi dengan hak, martabat, dan kebutuhan tumbuh kembang yang harus dilindungi. Itulah esensi dari Humanistic Arts Management for Children,” tambahnya.

Lokakarya dan Luaran Konkret untuk Keberlanjutan

Rangkaian kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan pemetaan kondisi sanggar, melibatkan pengurus, pelatih, orang tua, hingga mitra. Tahap berikutnya berupa lokakarya penguatan kapasitas SDM, di mana para pelatih dan pengurus dibekali pemahaman etika pendampingan seni anak, disertai simulasi praktik aman dalam latihan dan pertunjukan.

Program ini menghasilkan sejumlah luaran strategis, antara lain, dokumen model manajemen sanggar humanistik, modul pembelajaran berbasis SOP perlindungan anak, kurikulum latihan teater anak berjenjang sesuai tahap tumbuh kembang, manajemen produksi pementasan yang profesional. Selain itu, dokumentasi karya secara digital, penguatan promosi seni yang etis dan ramah anak serta perencanaan skema keberlanjutan sanggar.

Dr. Fitriani Lubis, S.Pd., M.Pd., salah satu anggota tim pengabdian, menekankan, pendekatan humanistik ini memiliki dampak ganda: melindungi anak sekaligus melindungi institusi.

“Penerapan manajemen humanistik tidak hanya menjaga anak sebagai subjek utama, tetapi juga melindungi sanggar dari risiko hukum, reputasi, dan konflik sosial. Dengan sistem yang jelas, seluruh pihak—anak, orang tua, pelatih, dan pengelola—memiliki rujukan perilaku dan mekanisme penyelesaian masalah yang transparan,” jelas Dr. Fitriani.

Ia juga menyoroti kebijakan perlindungan anak kini menjadi syarat kelayakan bagi banyak lembaga donor. “Dengan tata kelola yang tertib, Sanggar Anak Deli Company mampu memperluas peluang kemitraan dan mengembangkan sumber pendapatan mandiri yang beretika, seperti paket pertunjukan edukatif untuk sekolah dan distribusi karya digital sebagai bahan ajar,” tambahnya.

Menuju Pusat Rujukan Seni Anak yang Humanistik

Rekam jejak panjang dan basis komunitas yang kuat menjadikan Sanggar Anak Deli Company layak “naik kelas” menjadi lembaga seni anak yang profesional dan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan menghasilkan model manajemen yang dapat direplikasi oleh komunitas seni anak lainnya di Indonesia.

“Kami ingin seni anak tidak sekadar berhenti sebagai aktivitas estetis, tetapi tumbuh menjadi ruang pembentukan empati, karakter, identitas kultural, dan literasi sosial. Ini adalah investasi bagi masa depan generasi muda Sumatera Utara yang kreatif, berkarakter, terlindungi, dan bangga pada budayanya sendiri,” pungkas Dr. Fitriani.

Melalui program ini, Sanggar Anak Deli Company membuktikan bahwa seni dan perlindungan anak dapat berjalan beriringan, menciptakan ruang kreatif yang tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga aman secara manusiawi.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Sultan Deli XIV: Pembangunan Rendah Karbon Keniscayaan, Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci

mimbarumum.co.id - Sultan Deli XIV, Seri Paduka Tuanku Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menegaskan bahwa Pembangunan Rendah Karbon...