Beberapa waktu lalu masyarakat se,pat dikejutkan oleh berbagai temuan. Ada MinyakKita yang isinya tidak sampai satu liter. Ada yang dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi. Ada dugaan penimbunan. Ada pula persoalan distribusi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Semua itu sempat menjadi berita besar. Satgas turun. Aparat bergerak. Kamera televisi menyorot. Media cetak dan daring mengabadikan. Pernyataan keras bermunculan. Lalu… Sunyi.
Rakyat tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana akhir dari semua kasus itu. Siapa yang diproses? Siapa yang dihukum? Berapa izin usaha yang dicabut? Berapa pelaku yang dijatuhi hukuman berat? Berapa kerugian masyarakat yang berhasil dipulihkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu jarang sekali mendapatkan jawaban. Akibatnya, pelanggaran yang sama muncul lagi. Kalau kemarin isi kemasan dikurangi, hari ini harga dinaikkan. Kalau kemarin ada dugaan penimbunan, hari ini barang kembali sulit ditemukan.
Polanya hampir sama. Hanya waktunya yang berbeda. Ini menunjukkan satu hal. Efek jera belum benar-benar hadir. Dalam hukum dikenal satu prinsip sederhana. Hukuman bukan hanya untuk menghukum pelaku. Tetapi juga agar orang lain tidak berani melakukan perbuatan yang sama.
Kalau pelanggaran terus berulang, berarti ada yang belum bekerja sebagaimana mestinya. Entah pengawasannya. Entah penindakannya. Atau mungkin keduanya.
Negara tidak boleh kalah oleh segelintir orang yang mencari keuntungan dari penderitaan masyarakat. Apalagi yang dipermainkan adalah kebutuhan pokok.
Keuntungan yang mereka peroleh mungkin hanya beberapa ribu rupiah dari setiap liter. Tetapi jika dikalikan ribuan bahkan jutaan liter, nilainya menjadi sangat besar. Sebaliknya, kerugian rakyat mungkin hanya Rp3.000 atau Rp4.000 setiap membeli satu liter. Tetapi bagi keluarga kecil, jumlah itu sangat berarti.
Karena itu jangan pernah menganggap pelanggaran terhadap MinyakKita sebagai pelanggaran biasa. Yang dirugikan bukan satu atau dua orang. Melainkan jutaan keluarga.
Kalau negara ingin masyarakat percaya kepada hukum, tunjukkan bahwa hukum benar-benar bekerja. Jangan hanya mengumumkan penangkapan. Umumkan juga hukumannya. Jangan hanya memperlihatkan barang bukti. Perlihatkan pula bahwa pelakunya benar-benar mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sebab hukum yang hanya terdengar keras di awal, tetapi menghilang di akhir, tidak akan pernah melahirkan rasa takut. Yang lahir justru keberanian untuk mengulangi pelanggaran yang sama. Dan selama itu masih terjadi, jangan heran bila MinyakKita terus menjadi ladang keuntungan bagi segelintir orang. Sementara rakyat kecil tetap dipaksa membayar harga yang seharusnya tidak mereka bayar.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platfor digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


