Sebelum liburan sekolah lalu, saya sering bertanya kepada anak-anak tentang menu MBG mereka apa saja. Mereka menjawab kadang daging ayam, kadang telur, kadang ikan. Kalau daging sapi atau lembu, kata mereka baru sekali mereka rasakan pada saat awal-awal sekali MBG masuk ke sekolahnya pun dengan ukuran yang sangat kecil.
Selain lauk itu, mereka juga sebut hampir setiap hari selalu ada buah, penomat dua buah salak ukuran kecil. Kadang juga mendapatkan sekotak kecil susu cair. Sedangkan pada hari tertentu mereka hanya mendapatkan makanan ringan, susu kotak, biskuit, dan buah salak kecil.
Saya mendengarkan semuanya. Lalu tanpa sadar saya mulai membandingkan dengan isi piring di rumah. Bukan karena makanan di rumah selalu lebih mewah. Sama sekali bukan. Tetapi karena di rumah, istri saya tidak pernah menghitung kalori. Tidak pernah menghitung protein. Tidak pernah membaca tabel kebutuhan gizi anak.
Ia hanya memakai satu ukuran yang sangat sederhana. “Anak jangan sampai lapar.” Mungkin hampir semua ibu melakukan hal yang sama. Kalau anak masih minta tambah nasi, ditambah. Kalau lauknya habis, digoreng lagi telur. Kalau sayurnya tidak disentuh, biasanya mulai membujuk.
Ukuran seorang ibu memang sederhana. Yang penting anak suka dan kenyang.
Tetapi ternyata pemerintah memakai ukuran yang berbeda. Bukan lagi sekadar kenyang. Melainkan bergizi. Di sinilah saya mulai berpikir. Apakah kenyang selalu berarti bergizi? Atau justru bergizi belum tentu membuat anak merasa kenyang?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sepele. Tetapi sesungguhnya di situlah inti dari Program Makan Bergizi Gratis. Karena tujuan program ini bukan sekadar mengisi perut anak-anak selama berada di sekolah. Pemerintah ingin mereka tumbuh lebih sehat. Lebih kuat. Lebih cerdas. Itu sebabnya kata yang dipilih adalah “bergizi”, bukan “makan gratis”.
Masalahnya, gizi bukan sesuatu yang bisa dilihat dengan mata. Kalau nasi kurang, anak langsung tahu. Kalau lauk sedikit, mereka juga tahu. Tetapi apakah protein yang mereka makan hari itu sudah cukup? Apakah kebutuhan zat besinya terpenuhi? Apakah vitaminnya sesuai?
Anak-anak tentu tidak pernah menghitung sampai sejauh itu. Orang tua pun sebagian besar tidak. Karena itulah pemerintah hadir membawa standar. Dan ketika negara sudah menetapkan sebuah standar, masyarakat tentu berharap standar itu benar-benar bisa dipenuhi. Bukan hanya di atas kertas. Tetapi juga di atas piring.
Saya membayangkan pekerjaan itu pasti tidak mudah. Indonesia bukan satu kota. Bukan pula satu kabupaten. Anak-anak yang menerima MBG jumlahnya jutaan. Mereka tinggal di daerah yang berbeda. Harga bahan makanan berbeda. Ketersediaan ikan berbeda. Sayuran berbeda. Kebiasaan makan juga berbeda.
Menyusun satu standar untuk seluruh Indonesia tentu bukan pekerjaan sederhana. Tetapi justru karena sulit, pengawasannya harus jauh lebih serius. Sebab anak-anak tidak sedang mengonsumsi angka. Mereka sedang memakan makanan yang akan menjadi bagian dari pertumbuhan tubuh mereka.
Kalau gizinya kurang hari ini, mungkin tidak langsung terlihat besok. Kalau proteinnya tidak cukup minggu ini, mungkin tidak langsung terasa bulan depan. Tetapi pertumbuhan anak berlangsung setiap hari. Tubuh mereka tidak pernah menunggu rapat evaluasi. Ia terus bekerja. Terus membangun tulang. Terus membentuk otot. Terus menyusun sel-sel baru.
Karena itu, menurut saya, ukuran keberhasilan MBG tidak boleh berhenti pada jumlah ompreng yang berhasil dibagikan. Bukan pula hanya pada berapa juta anak yang menerima makanan setiap hari.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah makanan itu benar-benar memenuhi tujuan ketika program ini dilahirkan. Karena pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan sekadar anak-anak yang pulang sekolah dengan perut terisi.
Kita ingin mereka pulang membawa bekal yang jauh lebih penting. Bekal untuk tumbuh. Dan bekal itu tidak selalu bisa diukur dari rasa kenyang.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


