Koperasi atau Proyek Infrastruktur?

Berita Terkait

Pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih masih terus berlangsung di berbagai daerah. Ada yang sudah rampung. Ada yang masih dalam tahap pengerjaan pondasi. Jumlahnya tentu tidak sedikit.

Memang ada juga yang sudah membuka gerainya. Bahkan sebagian diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Namun kenyataan di lapangan tidak selalu sama. Ada yang masih beroperasi setelah peresmian, tetapi ada pula yang kabarnya tutup tidak lama kemudian. Bahkan terdengar cerita bahwa sebagian barang dagangan ditarik kembali oleh pemasok karena aktivitas usaha yang tidak berjalan sebagaimana diharapkan.

Di tempat lain, yang terlihat baru sebatas bangunan dan spanduk bertuliskan Koperasi Merah Putih. Masyarakat pun belum mengetahui apakah koperasi tersebut sudah benar-benar beroperasi atau belum.

Jujur saja, semua ini menyisakan banyak pertanyaan. Siapa sebenarnya anggota koperasi itu? Apa usaha yang akan dijalankan? Dari mana sumber pendapatannya? Siapa pasarnya? Dan bagaimana aktivitas bisnisnya akan bertahan dalam jangka panjang?

Saya yakin pertanyaan yang sama juga muncul di benak warga yang tinggal di sekitar bangunan koperasi tersebut. Karena itu saya mencoba memahami bagaimana sebenarnya skema pembangunan Koperasi Merah Putih ini.

Dari berbagai penjelasan pemerintah, satu koperasi dapat memperoleh pembiayaan hingga sekitar Rp3 miliar. Dari jumlah itu, porsi terbesar diarahkan untuk pembangunan aset fisik seperti gerai, gudang, kendaraan operasional, klinik, apotek, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya. Sementara modal kerja yang langsung digunakan untuk menjalankan usaha justru porsinya jauh lebih kecil.

Jika angka itu dikalikan dengan target pembentukan sekitar 80.000 Koperasi Merah Putih di seluruh Indonesia, maka kita sedang berbicara tentang program yang nilainya luar bisa besar, yakni bisa mencapai angka pada kisaran Rp240 triliun hingga Rp400 triliun.
Angka sebesar itu tentu bukan angka yang bisa dianggap biasa. Itu adalah uang yang dikumpulkan dari rakyat dan seharusnya kembali kepada rakyat dalam bentuk manfaat yang nyata.

Karena itu jangan sampai ratusan triliun rupiah yang dikeluarkan atas nama pemberdayaan ekonomi rakyat berakhir hanya menjadi deretan bangunan yang berdiri tanpa kehidupan ekonomi yang sehat di dalamnya.

Jangan sampai uang yang dihimpun dari keringat rakyat menguap begitu saja, sementara pada saat yang sama banyak keluarga masih berjuang memenuhi kebutuhan pokok, membayar biaya pendidikan anak, menghadapi biaya kesehatan, dan berbagai kebutuhan hidup yang semakin berat dari hari ke hari.

Karena pada akhirnya rakyat tidak akan mengingat berapa banyak gedung yang dibangun. Rakyat hanya akan mengingat satu hal. Apakah hidup mereka menjadi lebih baik setelah semua uang itu dibelanjakan.

Saya tidak mengatakan bahwa bangunan itu tidak penting. Tentu penting. Tidak ada usaha yang bisa berjalan tanpa sarana pendukung. Tetapi persoalannya adalah soal prioritas.
Dalam dunia usaha, yang biasanya dicari terlebih dahulu adalah pasar. Siapa pembelinya. Apa kebutuhannya. Bagaimana peluang usahanya. Setelah itu usaha dijalankan.

Ketika usaha berkembang, barulah aset dan infrastruktur diperbesar. Karena itu saya melihat ada sesuatu yang menarik dalam pembangunan Koperasi Merah Putih. Begitu besar energi yang dicurahkan untuk mempercepat pembangunan fisiknya. Berbagai unsur pemerintah bergerak. Berbagai lembaga dilibatkan. Pembangunan berlangsung secara serentak di banyak daerah.

Tentu pemerintah memiliki alasan dan pertimbangannya sendiri. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang juga layak diajukan. Mengapa yang paling cepat terlihat justru bangunannya? Mengapa yang paling mudah ditemukan justru gedungnya?

Sementara masyarakat masih bertanya-tanya tentang usaha yang akan dijalankan, pasar yang akan dilayani, serta bagaimana koperasi itu akan bertahan setelah seluruh seremoni dan peresmian selesai.

Membangun gedung memang penting. Tetapi yang jauh lebih sulit adalah membuat gedung itu memiliki kehidupan. Dan koperasi yang hidup tidak pernah diukur dari megahnya bangunan. Koperasi yang hidup diukur dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan anggotanya.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Tom Lembong dan Pertanyaan Tentang Kepercayaan kepada Hukum

Pada episode sebelumnya kita sampai pada satu pertanyaan, bagaimana kalau masyarakat tidak sepenuhnya percaya kepada orang yang diberi kewenangan...