Setiap kali mendengar pemerintah berbicara tentang koperasi, ingatan saya selalu melayang ke masa puluhan tahun lalu. Saat itu saya masih sering turun ke lapangan untuk meliput berbagai persoalan ekonomi rakyat. Salah satu yang cukup sering saya ikuti adalah perkembangan koperasi.
Pada masa itu ada istilah yang cukup populer di kalangan pegiat koperasi. Namanya koperasi merpati. Bukan karena koperasinya suka terbang. Tetapi karena hidupnya bergantung pada “jagung”.
Jagung yang dimaksud tentu bukan makanan burung. Melainkan bantuan, fasilitas, proyek, atau berbagai bentuk dukungan yang datang dari pemerintah.
Ketika bantuan datang, koperasi terlihat hidup. Ada rapat. Ada kegiatan. Ada pengurus yang sibuk. Ada laporan yang tebal.
Tetapi ketika bantuan berhenti, aktivitas perlahan ikut menghilang. Kantor mulai sepi. Rapat semakin jarang. Usaha tidak berkembang. Lalu koperasi tinggal papan nama.
Di sisi lain, tentu tidak semua koperasi bernasib demikian.
Sampai hari ini kita masih bisa menemukan koperasi yang tetap bertahan dan menjalankan kegiatan usahanya. Di Medan misalnya, masyarakat masih dapat melihat aktivitas bisnis yang dilakukan Koperasi Pengangkutan Umum Medan atau KPUM. Kendaraan yang beroperasi di jalan menjadi penanda bahwa masih ada denyut usaha yang bergerak di dalam koperasi tersebut.
Saya yakin KPUM bukan satu-satunya. Masih ada koperasi pegawai, koperasi karyawan, koperasi yang tumbuh di lingkungan profesi tertentu, maupun koperasi lain yang tetap bertahan meski tidak terlalu terlihat di ruang publik.
Menariknya, banyak koperasi yang mampu bertahan justru memiliki basis anggota yang jelas dan kebutuhan yang nyata. Ada yang ditopang oleh lingkungan kerja yang relatif tetap, ada yang tumbuh karena anggotanya memang memiliki kepentingan ekonomi yang sama, dan ada pula yang bertahan karena memiliki usaha yang benar-benar dibutuhkan anggotanya.
Hal itu mengajarkan satu pelajaran sederhana. Koperasi tidak hidup karena papan nama. Koperasi tidak hidup karena seremoni. Koperasi hidup karena ada anggota yang merasa membutuhkan dan memperoleh manfaat dari keberadaannya.
Karena itu ukuran keberhasilan koperasi sesungguhnya bukan berapa banyak yang didirikan, melainkan berapa banyak yang tetap menjalankan usaha dan memberi manfaat setelah bertahun-tahun berdiri.
Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang membuat saya selalu berhati-hati ketika mendengar program koperasi berskala besar. Banyak pihak yang percaya koperasi adalah salah satu gagasan ekonomi terbaik yang pernah dikenal dunia. Tetapi masalahnya, koperasi yang baik bukan lahir dari bantuan. Ia lahir dari kebutuhan.
Bantuan mungkin bisa membangun gedung. Bantuan mungkin bisa membeli meja, kursi, atau komputer. Tetapi bantuan tidak bisa membeli rasa memiliki. Padahal rasa memiliki itulah yang menjadi nyawa sebuah koperasi. Tanpa itu, koperasi hanya menjadi organisasi biasa.
Kita sering terlalu sibuk menghitung berapa banyak koperasi yang berhasil didirikan. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak yang benar-benar hidup.
Karena mendirikan koperasi sebenarnya tidak terlalu sulit. Mengumpulkan orang untuk rapat bisa dilakukan. Menyusun pengurus juga bisa dilakukan. Membuat akta dan dokumen administrasi juga bisa dilakukan.
Yang sulit adalah membuat anggota merasa bahwa koperasi itu milik mereka. Sebab ketika anggota merasa memiliki, mereka akan menjaga koperasi meskipun tidak ada bantuan. Mereka akan berusaha meskipun tidak ada proyek. Mereka akan bertahan meskipun tidak ada pejabat yang datang berkunjung.
Sebaliknya, ketika koperasi hanya bergantung pada program dan fasilitas, maka masa depannya ikut bergantung pada keberadaan program dan fasilitas itu. Ketika sumber bantuan berhenti, denyut kehidupannya ikut melemah.
Karena itulah Koperasi Merah Putih seyogyanya tidak mengulangi jejak koperasi-koperasi merpati yang pernah memenuhi berbagai sudut negeri ini. Sebab rakyat tidak membutuhkan lebih banyak papan nama. Rakyat tidak membutuhkan lebih banyak gedung kosong.
Rakyat membutuhkan lembaga ekonomi yang benar-benar bekerja, benar-benar membantu, dan benar-benar menjadi milik mereka. Kalau itu bisa terwujud, koperasi akan menjadi harapan. Tetapi kalau tidak, sejarah mungkin hanya sedang mencari cara baru untuk mengulang dirinya sendiri.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


