mimbarumum.co.id – Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan Tanah Air, Senin dinihari, 27 April 2026, sekitar pukul 02.50 WIB. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, Ketua Senat Universitas Negeri Medan (Unimed), berpulang ke rahmatullah di RS Murni Teguh Medan, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, kolega, ribuan mahasiswa, serta seluruh alumni yang pernah menempuh pendidikan di bawah naungan kepemimpinannya.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Pelajar Timur, Komplek Griya Unimed No. 2, Medan. Rumah sederhana itu perlahan dipenuhi pelayat dari berbagai kalangan; dari guru besar, pejabat kementerian, hingga mahasiswa yang mengantre untuk memberikan penghormatan terakhir. Di sanalah, duka dan kenangan bercampur menjadi satu dalam doa-doa yang dipanjatkan.
Kenangan tentang almarhum tidak selalu tentang ruang rapat senat atau orasi ilmiah yang megah. A.R. Piliang, yang pertama kali mengenalnya sekitar tahun 1980-1981 saat mengikuti Basic Training (BT) di ALIMBAS yang dipanitiakan HMI Komisariat FIP-IKIP Medan, masih ingat persis sosok pendiam itu. Saat itu, A.R. Piliang duduk di sampingnya sebagai asisten instruktur.
Di forum training yang bergelora, Syawal muda hampir tidak pernah terdengar suaranya. Ia dijuluki “terlalu pendiam”, bahkan nyaris tanpa ekspresi. Namun di balik diamnya, ia sangat rajin memerhatikan dinamika forum dan terus mencatat. Beberapa kali ia diguit dan dipancing untuk berbicara, tapi ia tetap sulit mengeluarkan kata-kata, seolah menyimpan lautan pemikiran di balik bibir yang terkunci.
Momen mengharukan terjadi di malam penutupan forum. Setelah acara ditutup dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan kata hati dari Master of Training, Syawal tiba-tiba memeluk A.R. Piliang erat-erat sambil menangis. Dalam isak tangisnya, ia mencurahkan seluruh rasa hati yang selama ini terpendam selama berada di ruang training. Pelukan itu adalah monumen persahabatan yang tak pernah terlupakan.
Selesai BT, Syawal seolah menghilang dari geliat organisasi komisariat. Ia memilih menjadi seorang pebelajar tekun yang asyik dengan bukunya. Tak banyak yang tahu, hingga ia akhirnya menjadi PNS di IKIP Medan. Jejak kader HMI-nya begitu rapat sehingga hampir tidak ada civitas akademika yang menduga bahwa rektor masa depan mereka adalah seorang aktivis kampus yang pernah mengikuti pembinaan kader.
Kenyataan itu sempat menjadi teka-teki. Saat Syawal maju sebagai calon rektor, banyak yang meragukan latar belakangnya. A.R. Piliang pun harus turun langsung ke komisariat HMI di lingkungan IKIP Medan untuk menjelaskan dan mengonfirmasi keberadaan almarhum sebagai kader sejati. Itulah bukti bahwa Syawal adalah tipe kader yang tidak mengenakan atribut di lengan, melainkan nilai-nilai di dalam hati.
Memang, beliau tidak banyak bicara. Namun diamnya mengajarkan segalanya. Ada empat hal yang patut diteladani: pertama, ia adalah pebelajar sejati yang bersahaja. Kedua, ia memiliki perhatian besar pada pebelajar yang berkeinginan kuat namun kesulitan finansial—suka membantu yang lemah. Ketiga, baginya, guru yang hebat adalah guru yang mampu membuat anak didiknya bersemangat belajar. Keempat, ia sangat hormat kepada senior.
Selamat Jalan, Sang Mentor
“Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu,” doa yang dipanjatkan A.R. Piliang. “Selamat jalan, Adikku, sahabatku, mentorku, menuju kediaman abadimu. Semoga engkau berkenan di sisi-Nya.” Bagi banyak senior HMI, kepergian Syawal adalah kehilangan atas seorang pendiam yang mengajarkan makna keberanian tanpa perlu suara keras.
Wahyu Triono K.S., alumnus Unimed yang kemudian menjadi kolega, menerima berita duka itu juga dengan rasa kehilangan mendalam. Baginya, Syawal bukan hanya guru besar atau dosen, melainkan teladan dalam dunia pendidikan yang utuh. Ia mengenal almarhum sejak awal karier akademiknya di Unimed, tak lama setelah Syawal menyelesaikan studi Magister Pendidikannya di Universitas Negeri Yogyakarta.
Setiap pertemuan bersama Prof. Syawal selalu menghadirkan suasana belajar yang hidup dan bermakna. Gaya mengajarnya sistematis, penuh perhatian, dan mampu menguraikan materi kompleks menjadi sederhana. Namun satu ciri khas yang paling melekat di ingatan banyak orang adalah langkah kakinya yang cepat. Itu bukan sekadar gaya berjalan, melainkan cerminan semangat, ketegasan, dan ketepatan dalam setiap langkah pengabdiannya.
Almarhum tidak hanya menjabat Rektor Unimed dua periode (2007-2011 dan 2015-2019), tetapi juga pernah dipercaya sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP) di Kementerian Pendidikan. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia masih mengemban amanah sebagai Ketua Senat Guru Besar Unimed.
Wahyu Triono yang kini menetap di Jakarta, masih sempat berinteraksi dengan almarhum saat menjadi narasumber di berbagai forum. Pertemuan terakhir yang paling membahagiakan terjadi di Medan, saat menghadiri pelantikan Ikatan Alumni Unimed. Selain menikmati orasi ilmiahnya, Wahyu begitu menikmati senandung lagu Batak yang dinyanyikan oleh Prof. Syawal dengan merdu. Di situlah ia melihat sisi lain: seorang guru besar yang dekat, hangat, dan penuh canda.
“Saya bersaksi, engkau orang baik yang aku kenal dengan baik,” ucap Wahyu Triono dalam obituariumnya. “Selamat jalan, Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. Jasa dan pengabdianmu akan selalu dikenang. Semoga segala amal ibadahmu diterima di sisi Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.” Itulah kesaksian jujur dari seorang kolega yang tumbuh karena sentuhan ilmunya.
Duka Keluarga Besar IKA Unimed
Keluarga besar Ikatan Alumni Universitas Negeri Medan (IKA Unimed) juga menyampaikan duka cita yang mendalam. Kepergian almarhum dinilai sebagai kehilangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya bagi Unimed dan seluruh jejaring alumninya. Hingga akhir hayat, beliau tetap mengemban amanah sebagai Ketua Senat, menunjukkan dedikasi yang tidak pernah surut.
Ketua Umum Pengurus Pusat IKA Unimed Jafaruddin Harahap menyebut almarhum bukan hanya pemimpin kampus, melainkan arsitek pengembangan pendidikan yang memiliki visi jauh ke depan. “Beliau telah menorehkan banyak capaian penting dalam membangun fondasi akademik dan tata kelola Unimed yang lebih maju, modern, dan berdaya saing,” ujarnya. Lahir di Medan, 3 Februari 1962, almarhum meniti karier dari dosen matematika hingga guru besar.
Di mata alumni, Prof. Syawal adalah figur pemersatu yang mampu menjembatani hubungan antara alumni, civitas akademika, dan berbagai pemangku kepentingan. Ia dikenal rendah hati, terbuka, dan selalu memberi ruang bagi generasi muda untuk berkembang. Bahkan saat menjabat pejabat eselon I di kementerian, ia tetap bersahaja dan mudah dihubungi oleh siapa pun.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Pengurus Pusat IKA Unimed mengimbau seluruh alumni di berbagai daerah untuk melaksanakan doa bersama dan mengenang jasa-jasa almarhum. Mereka diajak untuk melakukan kegiatan positif yang mencerminkan nilai-nilai pengabdian yang selama ini beliau teladankan. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud bahwa seorang guru besar tetap hidup dalam murid-muridnya.
“Dedikasi, integritas, dan semangat pengabdian Prof. Syawal Gultom akan selalu hidup dalam setiap langkah kemajuan Unimed dan para alumninya. Kami kehilangan sosok panutan, tetapi warisan nilai beliau akan terus menjadi cahaya bagi generasi penerus,” demikian pernyataan resmi IKA Unimed.
Selamat jalan, Prof. Syawal. Langkah cepatmu telah usai, tetapi jejak kakimu akan terus menuntun kami pada kebaikan.
• Suyadi San



