mimbarumum.co.id – Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Prof. Dr. H. Nispul Khoiri, M.Ag menegaskan bahwa hasil penelitian dosen tidak boleh berhenti di ruang seminar atau sekadar menjadi laporan akademik.
Menurutnya, riset harus diketahui publik dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Penegasan tersebut disampaikan Prof. Nispul dalam kegiatan Bincang Capaian Akademik dan Riset Ilmiah: Diseminasi Hasil Penelitian yang digelar di Kampus UINSU Jalan Williem Iskandar, Medan, Kamis (12/2).
“Karya ilmiah dosen harus hadir sebagai solusi konkret atas persoalan umat dan bangsa. Penelitian bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi merupakan tanggung jawab moral dan akademik kepada masyarakat,” tegas Prof. Nispul.
Ia menilai, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat produksi pengetahuan yang berdampak sosial. Karena itu, diseminasi hasil riset menjadi jembatan penting agar ilmu pengetahuan tidak terisolasi di ruang akademik.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nispul juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pendanaan riset dari pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia, termasuk skema kolaboratif bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Kami bersyukur Kementerian Agama RI bersama LPDP terus memperkuat ekosistem riset di PTKIN, termasuk UINSU. Dukungan ini menjadi energi besar bagi dosen untuk melahirkan riset yang unggul, inovatif, dan berdampak luas,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi program perdana LP2M UINSU dalam mendorong budaya diseminasi riset secara terbuka. Forum tersebut dihadiri dosen, mahasiswa, serta Presiden Komunitas Pecinta Ilmu Pengetahuan dan Intelektual (KOPI PAHIT), Dr. Usiono.
Acara ditandai dengan pemaparan hasil penelitian oleh penerima hibah MoRA The AIR Fund, Prof. Dr. Amiruddin Siahaan, M.Pd. Dalam presentasinya, Amiruddin mengulas capaian riset, praktik baik, serta tantangan implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di sejumlah UIN, antara lain Jakarta, Medan, Malang, Bandung, Yogyakarta, dan Aceh.
Ia menilai, implementasi MBKM di lingkungan UIN masih cenderung berfokus pada program magang. Padahal, esensi MBKM jauh lebih luas, mencakup transformasi kurikulum, kolaborasi lintas institusi, serta integrasi pengalaman lapangan ke dalam proses pembelajaran.
“MBKM memberi ruang pembelajaran yang lebih fleksibel. Namun, pelaksanaannya menuntut kesiapan sistem, dosen, dan mahasiswa agar tidak berhenti sebagai program simbolik,” jelasnya.
Sementara itu, pembahas kegiatan, Prof. Dr. Chandra Wijaya, M.Pd menegaskan bahwa tujuan utama MBKM adalah peningkatan soft skills mahasiswa. Kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, serta daya adaptif menjadi kunci menghadapi dinamika dunia kerja dan perubahan sosial.
“Jika platform MBKM dijalankan secara utuh dan konsisten, kita akan melahirkan lulusan yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan keterampilan sosial,” ungkap Prof. Chandra.
Menutup kegiatan, Prof. Nispul kembali menegaskan komitmen LP2M untuk menjadikan UINSU sebagai pusat riset berbasis keislaman dan kemasyarakatan yang responsif terhadap tantangan zaman.
“UINSU harus tampil sebagai kampus riset yang kuat secara metodologis, sekaligus kokoh secara moral dan spiritual. Riset kita harus menjawab kebutuhan umat, memberi arah kebijakan, dan memperkuat kontribusi Islam dalam pembangunan nasional,” pungkasnya.
Melalui forum diseminasi ini, LP2M berharap hasil penelitian dosen UINSU tidak hanya menghasilkan luaran akademik seperti jurnal dan prosiding, tetapi juga menjadi rujukan kebijakan, penggerak pemberdayaan masyarakat, serta penguat reputasi institusi di tingkat nasional dan internasional.
Reporter: Ngatirin/rel


