mimbarumum.co.id – Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2019. Hidup sezaman dengan Raden Ajeng Kartini, dia bahkan bertukar surat dan berita dengan Kartini.
Meski namanya sering kali kurang menonjol dibandingkan tokoh legendaris itu. Namun di tengah hiruk-pikuk dunia jurnalistik yang terus berubah, nama Roehana Koeddoes tak pernah pudar. Pelopor jurnalis perempuan ini, menjadi pelopor literasi, pendidikan, dan penggerak ekonomi perempuan di Indonesia.
Fakta ini diungkap dalam diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes” di Gedung IDN Times, Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Diskusi yang digelar IDN Times bersama Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, Roehana dididik oleh keluarga yang memahami pentingnya pendidikan bagi perempuan. Dengan dukungan suami yang dia panggil Uda Kudus, di halaman rumahnya, Roehana membuka sekolah kecil untuk mengajari teman-temannya membaca dan menulis. Fasih berbahasa Belanda, Latin dan Indonesia, ia kemudian mendirikan Surat Kabar Soenting Melajoe pada 1912. Surat Kabar ini pun menjadi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan gagasan di era kolonial.
Bermula dari keberanian dan ketekunanannya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan hingga setara dengan kaum laki-laki, Roehana dianugerahi berbagai penghargaan. Pada 1974, ia mendapat penghargaan sebagai jurnalis perempuan pertama dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai perintis pers Indonesia pada 1987 dan Bintang Jasa Utama pada 2007. Klimaksnya, pada 7 November 2019, Pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional.
Warisan terbesar Roehana, sebagaimana diungkapkan Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia, Trini Tambu, adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran perempuan dari mana pun bisa menggerakkan perubahan. Yayasan Amai Setia, yang didirikannya pada 1911 dengan bantuan warga setempat, menjadi bukti nyata. Dana dari penjualan sertifikat tanah Roehana gunakan untuk membangun Gedung Kerajinan Amai Setia pada 1915. Gedung yang hingga kini berdiri kokoh sebagai pusat pemberdayaan perempuan.
“Melalui Amai Setia, perempuan tidak hanya belajar membaca dan menulis, tapi juga menghasilkan karya untuk membantu keluarga,” kata Trini, mengutip semangat Roehana.
Dalam tulisannya di Soenting Melajoe tahun 1911, Roehana menegaskan, “Kaum Wanita harus dimajukan, mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum Wanita pun harus memasuki sekolah seperti kaum pria. Karena dengan sekolah ilmu pengetahuan diperoleh.”
Pemikiran ini, menurut Trini, berakar dari masa kecilnya. Di mana ia melihat pendidikan sebagai kunci emansipasi. Dia juga membuka ruang redaksi sebagai infrastruktur emansipasi, memungkinkan perempuan menjadi narator kisahnya sendiri.
Trini pun menekankan tiga wajah Roehana, sebagai penggerak pemberdayaan perempuan, pendidik, dan jurnalis. “Kita semua adalah buah dari struktur yang dibangun Roehana Koeddoes. Contohnya, kini kita punya perempuan menjadi presiden, dan perempuan yang bercahaya di dunia jurnalistik,” tambah Trini.
Diskusi ini dipandu oleh Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, yang menutup pembukaannya dengan mengutip pemikiran dari Roehana, “Kemajuan zaman tidak akan membuat kaum perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang berubah adalah perempuan harus mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik, tidak untuk ditakut-takuti, dibodoh-bodohi, apalagi dianiaya.”
Tokoh-tokoh Penting Bahas Legacy Roehana Koeddoes
Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Najwa Shihab, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua FJPI Khairiah Lubis, Ketua AMSI Wahyu Dhyatmika, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wakil Menteri Komdigi, serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dari Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Mereka membahas tantangan ekosistem pers dan industri kreatif di era digital, termasuk perlindungan kerja jurnalistik di tengah tekanan ekonomi dan disrupsi teknologi.
Dengan penuh inspirasi, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menggugah semangat dengan menekankan bahwa kejujuran dan dedikasi sejati seperti yang diperlihatkan Roehana Koeddoes adalah kunci utama untuk menjaga integritas jurnalisme yang semakin terancam oleh banjir informasi tak terfilter.
“Apapun juga yang dihasilkan dari hati yang tertulus, itulah yang akan dituai oleh kita semua dan generasi-generasi selanjutnya,” kata Irene.
Sementara jurnalis sekaligus Pendiri Narasi, Najwa Shihab, menyoroti penyempitan ruang kebebasan pers di Indonesia. Dia bilang, pada 2025, Indonesia turun ke peringkat 127 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers, menurun 16 peringkat dari tahun sebelumnya. “Ini bukan sekadar angka. Ini alarm bahwa ruang kerja jurnalis semakin terdesak,” ujarnya.
Tekanan datang dari negara, ekonomi, bisnis, dan persaingan dengan konten kreator di digital. “Sebagian konten kreator menjalankan prinsip jurnalisme dengan baik, tapi sebagian lainnya mengejar viralitas yang bertentangan dengan fakta,” katanya.
Najwa menekankan pentingnya menjaga integritas dan keberanian, meski pola kriminalisasi terhadap jurnalis masih berulang, mirip dengan yang dialami Roehana lebih dari satu abad lalu.
Berdasarkan kisah perjuangan Roehana Koeddoes, Ketua Dewan Pers Profesor Komaruddin Hidayat menyatakan bahwa kemajuan perempuan kini tidak lagi bergantung pada perbedaan jenis kelamin, melainkan pada ketersediaan pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa di era kemajuan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) dan perangkat komputer, pendidikan menjadi elemen utama yang membuka peluang kesetaraan.
“Sekarang ini bukan lagi mengandalkan otot, tapi otak. Dengan AI, dengan komputer, maka pendidikan yang menentukan. Bukan karena laki-laki, bukan perempuan, tapi knowledge yang menentukan,” ujar Komaruddin.
Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dyatmika, menyatakan bahwa peran wanita sangat krusial di industri pers masa kini. Khususnya saat menghadapi tantangan berat yang melanda media, seperti penurunan kepercayaan masyarakat dan masalah kredibilitas.
“Kita sedang menghadapi isu kepercayaan terhadap media. Banyak publik yang tidak lagi percaya pada media. Di situ peran perempuan justru sangat penting, terutama dalam menjaga dan menegakkan kode etik jurnalistik,” ujarnya.
Dia yakin bahwa wanita memiliki kedudukan penting di ruang redaksi, bahkan dalam jabatan kepemimpinan, karena mereka dianggap lebih tegas dan tidak mau berkompromi soal etika.
Khairiah Lubis, Ketua FJPI yang akrab disapa Awi, menegaskan Roehana sebagai spirit kebebasan dan perlindungan jurnalis perempuan. “Bagi jurnalis perempuan, Roehana Koeddoes adalah spirit untuk kebebasan dan perlindungan perempuan,” kata Awi.
Awi menjelaskan jejak Roehana dari Koto Gadang hingga Medan, tempat ia menulis di koran Perempuan Bergerak pada 1919, yang menjadi akar gerakan jurnalis perempuan nasional. FJPI kini tersebar dari Aceh hingga Papua, dengan fokus pada penguatan kapasitas, jejaring, dan advokasi. Solidaritas ini tumbuh dari pengalaman bersama menghadapi stereotip, tekanan kerja, dan risiko kekerasan.
Di tengah tantangan itu, Awi menyerukan tanggung jawab melanjutkan perjuangan Roehana melalui tindakan nyata, seperti SOP penanganan kekerasan seksual dan kebijakan redaksi yang aman. “Kita terus memotivasi agar perjuangan Roehana bisa dilanjutkan,” pungkasnya.
Reporter : Siti Amelia



