mimbarumum.co.id – Inflasi di Provinsi Sumatera Utara turun menjadi 3,81% year-on-year (yoy) pada Januari 2026, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun masih di atas inflasi nasional sebesar 3,55% yoy dan target 2,5±1%.
Dalam High Level Meeting (HLM) TPID se-Sumatera Utara, yang digelar di Aula Raja Inal Kantor Gubernur Medan, Gubernur Bobby Nasution meluncurkan Peta Jalan (Roadmap) Pengendalian Inflasi Provinsi Sumatera Utara, sebagai panduan strategis untuk menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Acara ini, yang dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Rudy B. Hutabarat, dan perwakilan dari berbagai instansi, menyoroti kondisi surplus komoditas pangan di Sumatera Utara.
Namun, tantangan distribusi dan kerja sama antardaerah (KAD) menjadi fokus utama untuk mencegah gangguan pasokan. Hutabarat menekankan implementasi Early Warning System (EWS) untuk memantau harga secara real-time, terutama komoditas seperti telur ayam ras, bawang merah, dan cabai rawit yang cenderung turun, serta daging sapi, cabai merah, gula pasir, dan minyak goreng yang mengalami kenaikan terbatas namun terkendali.
Roadmap ini, yang disusun melalui kolaborasi pemerintah kabupaten/kota, mencakup enam rekomendasi strategis dari HLM, termasuk penguatan Gerakan Pangan Murah (GPM), koordinasi dengan Bulog untuk pasokan daging, kerja sama dengan produsen ayam, penundaan tarif administered prices, perluasan EWS, dan penguatan program gizi gratis. “Ini langkah preventif untuk menghadapi peningkatan konsumsi selama Ramadan,” kata Nasution.
Reporter : Siti Amelia


