mimbarumum.co.id — Dunia seni, akademisi, dan aktivis lingkungan Sumatera Utara berduka. Ir. H. Jaya Arjuna, seorang intelektual multidimensi, telah berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu (3/1/2026) dini hari pukul 04.50 WIB di kediamannya, Jalan Utama Kota Maksum, Medan. Kepergiannya mengejutkan banyak kalangan, mengingat Jumat sore (2/1) ia masih aktif berdiskusi dalam kegiatan sastra dan memancarkan pemikiran-pemikirannya yang tajam, sebagaimana terlihat pada foto.
Jaya Arjuna bukanlah nama asing. Lahir di Bukittinggi, 7 Oktober 1953, ia menghabiskan masa pendidikannya hingga menyelesaikan studi di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik USU. Namun, darah seni mengalir deras dari ayahandanya, Djanain, seorang pelukis. Sejak 1970, tulisannya berupa puisi dan cerpen menghiasi media massa. Ia bahkan dijuluki “Jules Verne-nya Indonesia” oleh kritikus sastra Korrie Layun Rampan.
Jaya mulai menulis puisi dan cerpen sejak muda. Cerpen pertamanya terbit di harian Mimbar Umum pada 1973 dengan nama pena D.Ar.D Makewa. Sejak itu, ia produktif. Puisi, cerpen, naskah drama panggung, hingga sandiwara radio mengalir dari penanya. Naskah dramanya, “Telah Gugur Hati Manusia”, bahkan menjadi Juara II Festival Drama KNPI 1976.
Namanya melanglang lebih jauh. Korrie Layun Rampan dalam buku “Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir” (2009) menyebut Jaya Arjuna sebagai “Jules Verne-nya Indonesia”, sebuah pujian tinggi untuk imajinasi sastranya. Pada 2010, ia diundang sebagai pembicara di Asia Culture Forum di Gwangju, Korea Selatan, membawakan makalah berjudul “The Harmony of Economic Development Through Cultural Roots Strengthening”. Pada 2024, ia menerima penghargaan khusus Sastrawan 50 Tahun Berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Pemikiran Terakhir: Solusi Nyata yang (Mungkin) Terlalu Sederhana
Di luar dunia sastra, Jaya adalah seorang aktivis lingkungan dan dosen teknik yang gigih. Gelar masternya dari Universiti Putra Malaysia pun ia perdalam di bidang lingkungan. Kombinasi unik inilah yang melahirkan keprihatinan dan analisis kritisnya terhadap masalah kota, terutama banjir yang kerap melanda Medan.
Di akun Facebook pribadinya, Jaya Arjuna masih aktif menyuarakan pemikirannya tentang penanggulangan banjir Medan dengan gaya khasnya: lugas, teknis, dan tanpa basa-basi.
“Menangani banjir Medan itu mudah,” tulisnya pada 14 Oktober 2025. “Masalahnya kan cuma ada ketemu air di jalan atau kadang masuk rumah. Kok bisa. Tempat laluannya diisi sedimen. Ngatasinya? Angkat sedimennya. Pakai alat yang sesuai dengan karakteristik sedimen, volume dan posisinya. Sudah. Tak usah banyak teori. Jangan ulangi luka lama orang Medan: Mencari Uang Dari Parit.”
Dalam unggahan lain di hari yang sama, ia mengkritik rencana pembangunan kolam retensi yang dinilainya tidak jelas hitungannya. “Untuk 1300-an titik banjir di Medan, diperlukan berapa unit kolam retensi? Berapa luas lahan diperlukan? Berapa biayanya? Kalau hitungannya belum jelas dan masuk akal, jangan masukkan dalam program… Cukup sikit aja dulu jadi contoh,” tulisnya, menyebut upaya singkat Bobby Nasution sebagai walikota sebagai “DP” yang minimal.
Pemikiran praktisnya ini bahkan menjadi bahan diskusi hangat di antara rekan-rekannya sesaat sebelum ia wafat. Zahrin Piliang, salah seorang junior dalam pelatihan HMI, mengungkapkan, pada Kamis (1/1) sore, mereka sempat mendiskusikan tawaran Jaya kepada Pemerintah Kota Medan.
“Kami pun sempat mendiskusikan tawaran alm ke Pemko Medan untuk perbaikan drainase dan penanggulangan banjir dengan biaya hanya sekitar Rp 350 miliar,” kenang Zahrin.
“Jumlah yang terlalu sedikit di mata penguasa dan politisi, tetapi bagi bang Jaya, jumlah itu sudah sangat cukup… Tentu saja di mata pengusaha dan penguasa yang berjiwa koruptor tawaran bang Jaya tak masuk akal,” kenang Zahrin.
Zahrin menggambarkan Jaya sebagai sosok yang konsisten dan berintegritas. “Di sinilah bang Jaya memperlihatkan kelasnya. Ia bukanlah insinyur tukang yang tunduk pada permintaan penguasa; beliau bukan pula aktivis yang tunduk pada tekanan siapapun termasuk koorporasi. Beliau seorang pengamat lingkungan yang konsisten dengan keilmuannya,” sergahnya.
Jaya Arjuna juga pernah dikenal menjadi pejuang antikorupsi yang gigih, bahkan menyelenggarakan lomba teriak, orasi, dan monolog antikorupsi yang disebut-sebut pertama di dunia. Meski akhirnya mengundurkan diri karena menganggap gerakan itu mulai diwarnai kepentingan lain, komitmennya terhadap kebenaran tak pernah pudar.
Senior Teladan dan Mentor Sejati
Duka mendalam terasa di kalangan keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan para aktivis. Selain Zahrin Piliang, M. Hendy Damanik menyampaikan rasa kehilangan melalui untaian puisi yang mengharukan: “Jay… Jaya Arjuna. Namamu adalah semangat. Langkahmu adalah harapan. Engkau pernah bermimpi besar— Agar Kota Medan bisa menjadi Kota Metropolitan yang bermartabat, kota yang maju bukan hanya bangunannya, tetapi juga manusianya,” tulis Hendy dengan haru.
“Engkau bercerita dengan mata yang menyala, seolah masa depan itu sudah di depan mata,” katanya lagi.
Sementara Riza Fakhrumi Tahir, yang mengenal Jaya sejak 1983, mengenangnya sebagai pembentuk karakter. “Awak terkejut, merasa kehilangan orang yang telah membentuk diri awak sebagai seorang kader dan aktifis yang tidak mengutamakan materi, harta dan jabatan,” ujar Riza. Ia menegaskan, Jaya adalah orang besar yang mewarnai dinamika lingkungan di Sumut dengan gagasan-gagasan besar yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Jaya Arjuna meninggalkan istri, Masnun Zain, serta dua orang anak, Dina dan Dinda. Namun, lebih dari itu, ia meninggalkan warisan pemikiran, karya sastra, dan teladan integritas. Kepergiannya bukan hanya kesedihan bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia sastra, lingkungan, pendidikan, dan pergerakan di Sumatera Utara.
Terutama, sebuah solusi nyata untuk banjir Medan yang ia anggap “mudah”—sebuah solusi yang kini menggantung, menunggu kemauan politik dan kesungguhan untuk mewujudkannya, sebagai penghormatan terakhir bagi sang pemikir yang telah pergi.
Jaya Arjuna telah pergi. Namun, warisannya tetap hidup: pada puisi-puisi yang terpublikasi, pada gagasan lingkungan yang tertunda, pada semangat kejujuran yang ia tularkan, dan pada kenangan indah sebagai seorang insinyur yang piawai merangkai kata, sekaligus penyair yang paham betul cara membendung banjir.
Selamat jalan, Bang Jaya. Mimpi tentang Medan yang bebas banjir dan bermartabat akan terus dikenang.
• Suyadi San


