SUARA Rini Febriani Hauri menggelegar membacakan puisi di sebuah ruang kelas Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Kota Jambi. Di tangannya, bahasa Indonesia bukan sekadar mata pelajaran, melainkan nyawa yang menghidupkan imajinasi. Perempuan yang akrab disapa Rini ini baru saja menyabet gelar Juara 2 Cerpen Internasional Piala H.B. Jassin 2025 – sebuah pencapaian yang membawa nama Jambi berkibar di kancah sastra dunia.
“Cerpen yang menang berjudul ‘Tiga Kematian Dayang Temulun’, bercerita tentang perempuan rimba yang mengalami tiga kematian – sebagai manusia, sebagai pohon, dan sebagai kabut,” ujar Rini dalam perbincangan virtual dengan mata berbinar. Karya tersebut lahir dari kegelisahannya melihat kerusakan hutan dan keinginannya untuk menyuarakan yang hampir hilang.
Penulis beruntung bisa bersua dengannya dalam perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-13 di Jakarta, 10–12 September 2025. Itu, pertemuan kesekian dengannya, dari sejumlah hajatan sastra yang sama diikuti. Hal unik, minat Rini pada sastra justru bermula dari “kecelakaan” akademik. Diterima di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua – setelah gagal masuk Akuntansi – awalnya membuatnya kecewa.
“Saya penyuka hitung-hitungan, justru dapat jurusan bahasa,” kenangnya. Namun, segalanya berubah ketika ia bergabung dengan organisasi kampus dan terpacu melihat teman-teman dari Fakultas Hukum yang aktif menulis di koran.
Dari situlah Rini mulai mencoba menulis dan mengirim karya ke media. Proses itu tidak mudah. “Saya pernah berkali-kali mengirim tulisan ke koran dan majalah, tidak satu pun dimuat,” akunya. Namun, kegigihannya akhirnya membuahkan hasil. Kini, ia telah menerbitkan belasan buku, termasuk kumpulan puisi “Suatu Sore Bersama Jassin” (2016) dan novel anak “Lubuk Bumbun” (2017).
Perjalanan Rini dipenuhi lika-liku. Ia pernah gagal empat kali dalam seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) sebelum akhirnya lolos pada percobaan kelima. “Keluarga terus memberikan dukungan untuk mencoba sekali lagi,” ujarnya penuh syukur. Prinsip hidupnya sederhana namun mendalam: “Jatuh tujuh kali, bangun delapan kali” – pepatah Jepang yang dipegangnya teguh.
Sebagai guru madrasah, ibu rumah tangga, dan penulis, Rini mengaku harus pandai membagi waktu. “Saya mengajar sampai sore, lalu mengurus keluarga. Malam hari untuk membaca dan menulis,” tuturnya. Kadang, ia begadang sampai dini hari untuk menulis. “Saya tahu ini bukan kebiasaan baik, tapi dengan waktu terbatas, saya harus memanfaatkan setiap kesempatan.”
Di madrasah tempatnya mengajar, Rini dikenal sebagai “mesin penggerak” yang mendorong rekan-rekan guru untuk berinovasi. Ia juga aktif mengelola kanal YouTube, siniar (podcast), dan media sosial sekolah. Namun, dedikasinya tak selalu dihargai. Pernah suatu ketika, karya yang dirintisnya bersama rekan justru diklaim guru senior sebagai hasil karyanya sendiri.

“Saat itu rasanya menyakitkan,” aku Rini. “Tapi saya memilih menyelesaikannya dengan kepala dingin, percaya bahwa kebenaran akan menemukan jalannya.” Sikapnya yang elegan dalam menghadapi ketidakadilan ini justru membuatnya semakin dihormati di lingkungan sekolah.
Daftar prestasi Rini begitu panjang. Dari 20 penghargaan yang diraihnya, yang terbaru adalah Juara 2 Cerpen Internasional Piala H.B. Jassin 2025 dan Juara III Penulisan Artikel tingkat Nasional oleh DWP KemKomDigi tahun 2025. Ia juga lolos Beasiswa Indonesia Bangkit Kementerian Agama RI 2025.
Perjalanan kreatif Rini Febriani telah melahirkan sejumlah karya yang mengesankan, dimulai dari Kumpulan Puisi Suatu Sore Bersama Jassin (2016). Di tahun berikutnya, ia menerbitkan novel anak Lubuk Bumbun melalui Kantor Bahasa Provinsi Jambi, disusul Kumpulan Cerpen Perempuan dalam Dua Kisah, serta novel anak Hikayat Depati Parbo yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud.
Tak hanya fiksi, ia juga menulis artikel ilmiah Interferensi Bahasa Jawa Dalam Berbahasa Indonesia yang diterbitkan Jurnal Bebasan Balai Bahasa Banten. Pada 2018, produktivitasnya terus meningkat dengan menerbitkan novel anak Rangkayo Hitam dan Pemujuk Selang, di samping buku nonfiksi Kuliner Khas Jambi, Sedap Nian Oi, novel anak Sultan Thaha Syaifuddin oleh Badan Bahasa Kemdikbud, dan buku nonfiksi Bececakop melalui Pundi Sumatera.
Tahun 2019 diwarnai dengan terbitnya cerita anak Rumah Baru Besudut, Novel anak Berpetualang ke Hutan Bukit Duabelas oleh JBS, dan Kumpulan Puisi Nipah Panjang dari Basabasi. Kemudian pada 2020, ia meluncurkan Kumpulan Cerpen anak Dongeng-Dongeng Orang Rimba melalui Syakaa Group, dan pada 2024, ia bahkan menulis skenario film layar lebar berjudul Tanah Perana’on, yang menjadi film terpanjang pertama di Jambi.
Di balik karya-karyanya, Rini telah meraih sederet prestasi dan penghargaan yang membuktikan dedikasinya. Pada 2017, ia memenangkan Sayembara Penulisan Buku Cerita Anak Tingkat Provinsi di Kantor Bahasa Jambi dengan buku Lubuk Bumbun, serta tingkat nasional di Badan Bahasa Kemdikbud dengan Hikayat Depati Parbo. Tahun 2018, ia kembali menang sayembara serupa di tingkat provinsi dengan Pemujuk Selang dan di tingkat nasional dengan Sultan Thaha Syaifuddin. Ia juga diundang sebagai penulis oleh Badan Bahasa Kemdikbud untuk menulis Kuliner Khas Jambi, Sedap Nian Oi, serta terpilih sebagai perwakilan penulis muda Indonesia dalam pelatihan cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) yang diikuti negara-negara Asia Tenggara.
Prestasi lainnya termasuk Juara II Kategori Penulis Bacaan Fiksi Tingkat Nasional Dikdasmen Kemdikbud, dan sejumlah kemenangan sayembara penulisan buku anak baik tingkat provinsi maupun nasional pada 2019 dengan judul Rumah Baru Besudut, Berlibur ke Kerinci, Kajanglako, dan Raja Sumbun. Ia pun aktif mewakili Jambi dalam Bimtek Instruktur Literasi Nasional dan Musyawarah Nasional Sastrawan. Buku puisinya Nipah Panjang sempat masuk nominasi buku puisi terbaik dalam Sayembara HPI, dan ia menyandang gelar Guru Madrasah Inspiratif pada 2023. Di tahun 2024, ia dipercaya sebagai Penulis Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia dan meraih Juara III Penulisan Resensi A.A. Navis. Pada 2025, ia lolos Beasiswa Indonesia Bangkit, meraih Juara III Penulisan Artikel tingkat Nasional, serta yang paling membanggakan, ia berhasil meraih Juara 2 Cerpen Internasional Piala H.B. Jassin.

“Impian terbesar saya adalah memiliki satu karya masterpiece sebelum meninggal – karya yang bisa menjadi warisan bagi dunia,” ujarnya. Dalam waktu dekat, ia akan mengambil cuti dari status PNS untuk fokus menimba ilmu di program magister. “Ilmu yang saya peroleh nanti akan saya bawa pulang dan bagikan kepada siswa dan masyarakat.”
Proses Kreatif dan Filosofi Menulis
Rini selalu menambah kata Hauri di belakang namanya. “Artinya bidadari surga, Bang, dari bahasa Arab,” terangnya. Baginya, menulis adalah cara untuk “bernapas di tengah kesibukan”. Ide-ide sering datang tiba-tiba – di jalan, saat berbincang, atau bahkan di tengah malam. “Saya langsung menuliskannya di ponsel agar tidak hilang,” katanya.
Kekhasannya? “Saya sering meyakinkan diri bahwa saya ini jelmaan cucu Ultraman – separuh darah saya terbuat dari cahaya, karena hidup saya penuh deadline!” candanya. Humor ini menjadi cara Rini menertawakan kesibukannya agar tidak stres.
Keluarga memiliki peran penting dalam perjalanan Rini. “Suami saya memberikan dukungan penuh terhadap setiap langkah yang saya ambil,” ujarnya. Dukungan ini membuatnya kuat menjalani berbagai peran – sebagai istri, ibu, guru, dan penulis.
Untuk generasi muda, Rini berpesan: “Berbuat baiklah. Dunia ini sudah tua, dan kita tidak tahu berapa lama lagi kesempatan kita untuk menebar kebaikan.” Ia juga menekankan pentingnya membaca dan bijak dalam bermedia sosial.
Dari guru madrasah di Jambi hingga penulis berkelas internasional, perjalanan Rini Febriani membuktikan bahwa passion dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang melampaui batas-batas yang ada. Dengan semangat “YAKUSA: Yakin, Usaha, Sampai” yang dipegangnya, ia terus menebar inspirasi – membuktikan bahwa sastra dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mulia dalam membangun peradaban.
• Suyadi San


