CAHAYA sore seusai hujan, Jumat (24/10/2025), menyelinap lepas jendela sebuah kafe hotel, menerangi raut wajahnya yang penuh ketenangan. Di sebuah sudut tenang di Jakarta itu, Nina Pane menyambut dengan senyum hangat. Ada aura keteduhan dan kedalaman yang terpancar darinya, seolah mencerminkan lautan pengalaman hidup dan lautan kata yang telah ditelannya sejak kecil.
Perempuan yang sudah memasuki kepala tujuh ini bukan hanya seorang cerpenis, prosais, dan penulis skenario film yang karyanya menghiasi jagat sastra Indonesia, tetapi ia juga adalah putri bungsu dari salah satu pilar sastra modern Indonesia, Sanusi Pane, dan cucu dari Sutan Pangurabaan Pane, penulis hebat era kolonial.
Pertemuan ini bukan sekadar kopi darat sesama diaspora Sumatra Utara di Pulau Jawa, melainkan sebuah perjalanan menyusuri lorong waktu, dari masa lalu yang penuh gegap gempita sastra hingga kerinduan mendalam pada sebuah kampung halaman di Sipirok, Tapanuli Selatan. Turut serta dalam pertemuan, sastrawan dan jurnalis senior asal Sumatra Utara pula, R. Mulia Nasution, yang mewarnai perbincangan.
Nina Pane merintis karier di dunia sastra saat ia mulai menulis cepen yang dimuat beberapa majalah remaja. Dirinya mengenal film saat ia menjadi penulis cerita di film “Serpihan Mutiara Retak” tahun 1985. Sejak usia 16 tahun ia telah menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai penerbitan, cerita drama remaja yang dipentaskan di panggung sekolah, diangkat ke layar televisi. Menjadi redaktur majalah Varia (1968–1972), Serasi (1987–1990), Famili (1991–1993), pengasuh album cerpen untuk majalah Ceria Remaja (1988–1997), dan penulis novel serta penulis lepas untuk berbagai majalah.
Pertama kali terjun ke dunia film sebagai penulis cerita dalam “Serpihan Mutiara Retak” (1985). Film ini meraih Piala Antemas pada FFI 1986 untuk kriteria Film Unggulan Terlaris. Sebagai penulis cerita dan skenario dalam “Mekar Diguncang Prahara” (1987), “Sejak Cinta Diciptakan” (1990), dan lain-lain.

Dunia dalam Kata: Warisan yang Mengalir dalam Darah
Bagi Nina Pane, dunia sastra adalah udara yang dihirupnya sejak lahir. “Saya besar di antara buku-buku dan obrolan tentang puisi dan prosa. Ayah (Sanusi Pane) mengajarkan banyak pemikiran tentang sastra, kehadirannya terasa sangat kuat melalui kata-kata yang ditinggalkannya, melalui buku-buku di perpustakaan rumah, dan melalui cerita Ibu dan kakak-kakak saya,” kenangnya dengan suara lembut namun jelas.
Warisan itu tidak menjadi beban, melainkan sumber inspirasi yang tak pernah kering. Menjadi anak dari seorang legenda, dan cucu dari seorang pionir, baginya adalah tentang memahami sebuah tanggung jawab moral untuk terus merawat bahasa dan cerita.
“Saya tidak pernah merasa harus menandingi mereka. Itu adalah hal yang mustahil dan tidak adil bagi diri sendiri. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri, bercerita dengan cara saya, tetapi dengan semangat yang sama: bahwa sastra adalah alat untuk memanusiakan manusia, untuk merekam denyut nadi zamannya,” tuturnya bersemangat.
Nina kemudian menceritakan pengalamannya berkarya, dari menulis cerpen-cerpen yang kerap menyoroti kehidupan perempuan dengan segala kompleksitasnya, hingga menulis skenario film yang membutuhkan disiplin dan struktur berbeda. “Prosa dan skenario adalah dua dunia yang berbeda. Sastra memberi ruang untuk monolog batin yang dalam, sementara skenario adalah seni visual, di mana kata harus diwujudkan dalam adegan dan dialog. Tapi keduanya sama-sama membutuhkan kepekaan dan empati.”
Kini ia malah berobsesi untuk melahirkan buku puisi walau pernah trauma dikritik Ayahandanya, Sanusi Pane, ketika menulis puisi tentang Pahlawan Revolusi Pierre Andries Tendean.
Mengusung Sang Ayah: Sanusi Pane Menuju Pahlawan Nasional
Pembicaraan kemudian beralih ke sebuah upaya mulia yang digaungkan oleh Balai Bahasa dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara: mengusung Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional. Mendengar hal ini, mata Nina berbinar penuh haru.
“Ini adalah sebuah kehormatan yang tak terkira, bukan hanya bagi keluarga, tetapi lebih penting lagi bagi dunia sastra dan sejarah Indonesia,” ujarnya penuh keyakinan. “Pemikiran Ayah, baik melalui karya sastra seperti ‘Puspa Mega’ atau ‘Madah Kelana’, maupun pemikiran kebudayaannya, memiliki pengaruh yang mendalam dalam membentuk kesadaran nasional di era pergerakan. Ia adalah salah satu intelektual yang dengan sungguh-sungguh merumuskan jati diri Indonesia, mencari titik temu antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas.”
Ia melanjutkan, “Pengusungan ini, jika terwujud, akan menjadi pengakuan negara bahwa kontribusi seorang sastrawan dalam membangun semangat kebangsaan dan membangun karakter suatu bangsa adalah setara dengan para pejuang bersenjata. Ini akan mengingatkan kita semua bahwa pena adalah senjata yang sangat ampuh.”
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menilai, Sanusi Pane sangat layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara, mengingat jasa besarnya ikut memelopori proses lahir dan berkembangnya Bahasa Persatuan, yaktu Bahasa Indonesia. Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatra Utara, R. Sabrina, saat membuka acara Seminar Nasional “Sang Penggerak Bahasa Persatuan Indonesia, Mengusung Sanusi Pane Menjadi Pahlawan Nasional” ditaja Balai Bahasa Provinsi Sumatra Utara di Medan, Selasa (23/2/2021).
Pengusulan Sanusi Pane menjadi pahlawan nasional di bidang bahasa dan sastra didasarkan pada jasanya yang memelopori lahirnya Bahasa Indonesia melalui usulan pada Kongres Pemuda I tahun 1926, serta kiprahnya sebagai sastrawan dan penggagas lembaga kebahasaan, Institut Bahasa Indonesia, yang menjadi cikal-bakal pendirian Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sekarang. Jasa-jasanya dianggap spesifik dan murni di bidang bahasa dan sastra, berbeda dengan sastrawan lain yang gelar pahlawan nasionalnya lebih terkait dengan jasa politik atau revolusi sosial seperti Tengku Amir Hamzah.
Kerinduan yang Tak Terobati: Sipirok dalam Ingatan
Di tengah percakapan tentang warisan dan pengakuan nasional, ada satu nama yang selalu muncul dengan nada rindu: Sipirok. Kampung halaman di Tapanuli Selatan itu bagai magnet yang selalu menarik hatinya pulang.
“Sipirok adalah akar. Di sanalah semesta saya bermula. Bau tanah setelah hujan, hawa sejuk pegunungan, gemericik air di sungai, dan kearifan orang-orangnya… itu adalah memori yang membentuk saya,” tuturnya, matanya menerawang seolah menembus ruang dan waktu.
“Sayangnya, kesibukan sering kali menjadi penghalang. Kerinduan itu hanya bisa saya tuangkan dalam beberapa tulisan. Saya rindu duduk di beranda, tempat nenek moyang yang justru seperti menjadi tempat terasing, mendengar cerita-cerita dari orang tua, merasakan langsung denyut kehidupan yang menjadi sumber inspirasi tak hanya bagi saya, tetapi juga bagi Ayah dan Kakek.” Kata-katanya terdengar lirih.
Kerinduan pada Sipirok juga adalah kerinduan pada sebuah Indonesia yang autentik, pada nilai-nilai keluhuran yang mulai tergerus. Bagi Nina, Sipirok adalah simbol dari ketahanan budaya.
“Serasa lega dan bahagia aku bisa berkomunitas dengan Saudara-saudaraku tercinta dari Sumatra Utara, yang selama ini aku serasa tercerabut dari akarku. Itulah yang kurasakan selalu, menjadi Indonesia tetapi tercabut dari akar sejatiku,” sergahnya.
Sebagai penutup pertemuan yang berkesan ini, Nina Pane dengan penuh kebanggaan yang sederhana memberikan sebuah cendera mata yang sangat istimewa: sebuah buku karya putra keduanya, Andrei Aksana.

“Ini adalah sedikit tanda dari perjalanan panjang keluarga kami,” ujarnya seusai menandatangani dan menyerahkan buku tersebut. Andrei Aksana, sang penulis, ternyata telah mengikuti jejak langkah buyutnya, kakeknya, dan ibunya. Di tangannya, warisan sastra keluarga Pane tidak hanya terpelihara, tetapi juga ditafsirkan ulang dengan semangat zaman yang baru.
Menerima buku itu terasa seperti menyaksikan sebuah siklus yang sempurna. Dari Sutan Pangurabaan Pane di era kolonial, ke Sanusi Pane di masa pergerakan, lalu ke Nina Pane di masa kemerdekaan, dan kini diteruskan oleh Andrei Aksana di generasi sekarang. Sebuah estafet kreativitas dan kecintaan pada kata yang tak terputus.
Nina Pane pun tersenyum. “Lihatlah, sastra ini hidup. Ia tidak hanya tentang masa lalu, tetapi tentang masa depan. Selama masih ada cerita yang perlu diceritakan, dan masih ada anak yang mau mendengarkan, warisan ini akan terus hidup,” sebut Nina yang sempat melarang putranya itu mengikuti jejaknya sebagai penulis.
Pertemuan dengan Nina Pane adalah pengingat yang mengharukan tentang betapa sastra adalah napas sebuah bangsa. Ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi, perekam sejarah batin suatu masyarakat, dan penjaga api ingatan yang tak boleh padam. Dan di jantung semua itu, ada seorang perempuan yang dengan tenang dan penuh martabat, terus merajut warisan itu sambil matanya selalu memandang ke arah Sipirok, kampung halaman yang menjadi sumber segala cerita.
• Suyadi San



