Ada satu kalimat jujur keluar dari mulut Bupati Deliserdang, dr. Asri Ludin Tambunan, ketika singgah ke kantor Mimbar Umum. Katanya, ia tidak ingin menjadikan Deliserdang tetiba berubah menjadi kota canggih, kota modern, apalagi kota industri yang penuh pencitraan. Ia hanya ingin warganya sehat, kenyang, dan bersekolah.
Tiga janji itu sederhana. Tidak muluk-muluk. Rakyat pun sebenarnya tidak pernah menuntut jalan tol di depan rumah, tidak juga gedung pencakar langit menjulang di atas tanah mereka. Yang rakyat minta jauh lebih sederhana. Kalau sakit, jangan terhenti di pintu rumah sakit. Kalau belanja, harga beras dan minyak jangan bikin kepala pening. Dan kalau punya anak, jangan sampai pulang sekolah hanya karena orang tua tak mampu bayar biaya.
Soal kesehatan, Deliserdang memang sudah mencapai Universal Health Coverage (UHC). Angka kepesertaan tinggi. Tapi apa artinya angka jika di lapangan rakyat masih dipusingkan soal iuran? Apa gunanya klaim UHC kalau kartu yang digenggam warga hanya indah dilihat, tapi tak kuasa menolong saat mereka butuh obat?
Nabi SAW pernah bersabda, “Barangsiapa di pagi hari merasa aman pada dirinya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” Sehat adalah nikmat besar, maka memastikan warganya bisa berobat adalah amanah utama pemerintah.
Soal pangan, Bupati bersama jajarannya rajin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai kecamatan. Tujuannya bagus dalam rangka stabilisasi harga, ketersediaan stok, meringankan beban masyarakat. Tapi jangan lupa, rakyat tahu siapa yang paling menentukan harga. Pasar tradisional, warung kecil, pedagang sayur keliling, semuanya berputar dalam rantai panjang distribusi. Jika tengkulak dan mafia pangan tidak disentuh, harga murah hanya akan jadi cerita di spanduk. Padahal Allah sudah mengingatkan, “Timbanglah dengan timbangan yang adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-haknya.” (QS. Asy-Syu’ara: 181–183). Menjamin pangan murah dan adil bukan sekadar program, tapi perintah agama.
Soal pendidikan, memang ada kursi dan bangku sekolah. Gedung sekolah pun berdiri. Toilet kini direhabilitasi agar siswa belajar di lingkungan yang sehat dan nyaman. Bupati menyebut sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa. Pernyataan itu indah. Tapi sekolah bukan hanya soal bangunan dan toilet. Yang lebih penting adalah kualitas guru, kelengkapan sarana belajar, dan kesempatan yang sama bagi anak-anak di pelosok.
Rasulullah SAW menekankan, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan.” Jangan sampai anak-anak di Lubukpakam mendapat pendidikan penuh, sementara anak-anak di pelosok masih tertinggal karena akses dan fasilitas terbatas.
Tiga janji itu sejatinya juga tiga ujian. Apakah pemerintah benar-benar berani mengeksekusi, atau hanya berhenti pada kata-kata manis? Apakah berani melawan spekulan pangan, berani menambah fasilitas kesehatan, berani memperbaiki sekolah-sekolah di pinggiran?
Deliserdang memang tidak butuh kota canggih dengan gemerlap pencitraan. Yang dibutuhkan rakyat hanyalah kabupaten yang sehat tubuh warganya, murah pangannya, dan cerdas anak-anaknya. Islam telah mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah, dan amanah itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dari janji sederhana itulah peradaban sejati dimulai. Dari janji yang mungkin terdengar kecil, tapi sejatinya sangat besar bagi kehidupan rakyat.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul : Tiga Mimpi Bupati Deliserdang : Rakyatnya Sehat, Kenyang dan Bersekolah



