Minyak Karo Mejuah-juah, Produk Tradisional yang Mendunia Berkat Sentuhan Modern

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Lulusan Tata Rias Universitas Negeri Medan (Unimed), Prima Takasi Ginting, membuktikan kreativitas tak mengenal batas. Alih-alih menjadi makeup artist atau penata rambut, seperti kebanyakan alumni, Prima justru menjadi pengusaha minyak karo. Alumni Unimed tahun 2014 ini, memproduksi dan memasarkan ramuan tradisional warisan budaya masyarakat Karo, yang dikenal banyak manfaatnya untuk kesehatan.

Berbagai inovasi minyak karo dia kembangkan berkat pengetahuan yang didapat selama kuliah. Kini, Prima mampu menorehkan kesuksesan. “Jadi sebelum lulus, saya mulai berpikir. Nanti apa kerja saya setelah kuliah? Kan nggak mungkin siap kuliah saya harus cari-cari kerja kesana-sini lagi. Apalagi cari kerja zaman sekarang agak sulit. Jadi saya berpikir, orang tua bisa membuat minyak karo. Jadi saya buat minyak karo,” ungkap Prima saat dijumpai di rumah sekaligus tempat usahanya, Dusun V Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang, beberapa waktu lalu.

Dari pemikiran sederhana ini, Prima melihat peluang untuk mengembangkan warisan budaya leluhurnya. Bermodal Rp 100 ribu untuk membeli rempah-rempah dan bahan olahan, dia pun terus melakukan riset. Hasilnya, kini Prima bisa memasarkan minyak karo dengan sentuhan yang lebih modern.

Awalnya, minyak karo inovasi Prima dipasarkan secara sederhana. Dia menitipkan produk di Toko Bunga Rampai hingga menawarkan produk dari mulut ke mulut kepada teman-teman di kampus. “Kemasannya juga masih sangat sederhana dari botol bekas, ada juga bekas botol mineral,” kenangnya. Seiring waktu, kemasan minyak karo pun mulai lebih higienis, lebih modern dan dikemas menarik.

Tidak hanya pada kemasan, inovasi produk pun dilakukan Prima melalui risetnya. “Dulu, minyak karo aromanya nggak sedap, hanya satu jenis. Setelah mendalami kosmetika tradisional di bangku perkuliahan, ide-ide inovasi pun muncul dari risetku,” ucap dia.

Aroma minyak karo yang dulu katanya kurang ‘nendang’, ungkap Prima, kini bisa didapatkan masyarakat dengan berbagai varian aroma. Dan aroma pertama yang dia lahirkan adalah kelapa hijau. “Reaksi pelanggan? Ternyata banyak yang bilang kurang hangat! Wah, ini dingin ya? Padahal aroma kelapa hijaunya sudah wangi dan segar sekali,” tuturnya.

Karena banyak yang merasa minyak karo buatan Prima kurang hangat, akhirnya dia menciptakan varian serai. “Minyak karo aroma serai ini memberikan sensasi hangat di kulit, aromanya juga menyegarkan,” ungkap dia.

Namun, imbuh Prima, ternyata masih ada yang merasa varian ini kurang panas. Karenanya dia melahirkan varian rempah. Dalam varian rempah ini, terdapat berbagai rempah pilihan yang memberikan efek panas yang lebih kuat. “Ini panas. Nah, ini baru pas! Tapi rempahnya ini terkesan kotor. Hanya sebagian orang yang senang. Tapi kita sebagai produsen harus bisa memenuhi apa kemauan mereka (konsumen). Karena mereka lah rajanya. Jadi kita buatlah yang cengkeh,” beber Prima.

Ternyata permintaan pasar tak berhenti sampai di cengkeh yang memiliki aroma sedap dan panas, konsumen minta aroma minyak kayu putih. Alhasil, Prima mencampur minyak karo dengan minyak kayu putih yang memberikan aroma yang lebih lembut dan disukai banyak orang. “Dalam pemasaran, kami juga memperhatikan tampilan produk, biasanya yang paling diminati yang warnanya lebih hijau. Karena itu, kami perbanyak warna hijaunya. Bahkan, kemasannya kini didominasi warna hijau,” ungkap pria kelahiran tahun 1992 ini.

Kini, tak hanya minyak karo, dengan merek ‘Mejuah-juah’, Prima juga sudah meluncurkan ramuan tradisional minyak luka gatal, minyak khusus untuk bayi, serta rempah rendaman kaki. “Ada param kering yang panas juga. Pastinya kita selalu buat inovasi yang terbaru,” tukasnya.

Meski terkesan lancar, Prima mengaku pernah mengalami masa sulit dalam mengembangkan usahanya. Terutama saat pandemi Covid-19 melanda, sehingga dirinya mengalami hambatan dalam produksi dan pemasaran. “Namun, semangat untuk terus berinovasi dan fokus pada satu tujuan membuat usaha kita tetap bertahan dan berkembang,” bebernya.

Proses Pembuatan Rumit dan Memakan Waktu

Prima menjelaskan, sebenarnya sebagian besar masyarakat Karo paham proses pembuatan minyak karo ini. Akan tetapi proses produksi minyak karo ini cukup rumit dan memakan waktu. Dimulai dari pengumpulan rempah-rempah, kemudian bahan dibersihkan, dicincang, digiling, dan dimasak menggunakan tungku gas elpigi selama sekitar 14 jam. “Jadi untuk produksi, kami harus memanaskan kompor dengan gas elpigi sejak pukul 06.00 WIB hingga 20.00 WIB,” ungkap dia.

Pengaturan panas saat memasak juga harus sangat diperhatikan, agar aroma dan kualitas minyak tetap terjaga. Api harus disesuaikan dari besar ke kecil menjelang proses akhir. “Karena itu, minyak karo dengan inovasi ini diminati, dan produk kita laku di pasaran,” tutur dia.

Agar lebih hemat energi, Prima pun sudah mengatur jadwal memasak minyak karo. Setiap bulannya, bersama tim produksi, dia memanaskan tiga tungku kompor untuk memproduksi 1 ton minyak karo.
Prima bilang, pengembangan produksi dan pemasaran pun semakin pesat sejak menjadi bagian dari Program Kemitraan Pertamina Patra Niaga pada tahun 2019. Dukungan dari perusahaan energi tersebut, ternyata berdampak signifikan terhadap kepercayaan konsumen. “Sudah enam tahun kami menjadi mitra binaan Pertamina. Kami merasakan betul dampaknya. Konsumen lebih yakin dengan produk kami,” tuturnya.

Contohnya, sambung Prima, dia bisa masukkan produk di beberapa pusat perbelanjaan modern dan toko obat besar. “Konsumen cenderung memilih minyak karo karena label ‘Binaan Pertamina’ yang ada di kemasan. Ini meningkatkan kepercayaan masyarakat akan kualitas produk kami,” ungkap pria kelahiran Tanjung Morawa ini.

Kata Prima, dukungan yang diberikan Pertamina tidak hanya berupa dana dengan bunga ringan. Dia juga pelatihan, bantuan peralatan, dan kesempatan mengikuti pameran di berbagai kota seperti Jakarta, Padang, Medan, dan Yogyakarta. “Bahkan produk kita juga sudah go ekspor di bantu Pertamina,” tuturnya.

Pembinaan yang dilakukan Pertamina, menurut Prima sangat membantu dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Yang membuat dia salut, Pertamina juga mendengarkan masukan dari pelaku UMKM dan memberikan solusi yang tepat. “Jadi kita merasa sangat didukung dan tidak ditinggalkan begitu saja. Pertamina tahu apa yang kita perlu. Seperti ketika kita beri masukan terkait pelatihan, ternyata didengar. Pelatihan berikutnya, sudah ada narasumber yang lebih kompeten,” ucap dia.

Berdampak Positif bagi Masyarakat

Dan ternyata, usaha Minyak Karo Mejuah-juah ini tidak hanya menguntungkan bagi Prima dan keluarga. Usaha ini juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dengan menyerap tenaga kerja lokal. “Kita ada tiga orang karyawan untuk produksi, satu orang untuk administrasi dan empat orang sales (pemasaran). tapi kalau ada pesanan dalam bentuk besar atau kita akan ikut pameran, kita akan tambah pekerja harian dari tetangga sekitar,” kata Prima.

Seperti Yunita, 29 tahun. Dia mengaku sudah bekerja selama 3 tahun di usaha minyak karo ini. Dia menjadi pekerja di Mejuah-juah sejak kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. “Dulu saya kerja di pabrik kacamata, tapi pabriknya tutup. Alhamdulillah ditawari kerja di sini, lebih efisien bagi saya, karena dekat rumah. gajinya juga sesuai,” terangnya.

Untuk itu, Prima berharap pembinaan dari Pertamina dapat terus berlanjut. Dengan dukungan dana, peralatan, dan pengetahuan, Prima ingin usahanya bisa semakin besar dan memberikan manfaat lebih luas ke masyarakat.

Sebagai gebrakan baru, Prima juga berencana meluncurkan brand ‘Takasi Mejuah-juah’ pada September ini. “Merek ini akan mengedepankan kualitas unggul dengan kemasan tutup hijau yang eksklusif,” tandasnya.

Sebelumnya, Area Manager Communication, Relation & CSR Sumbagut Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw mengungkapkan Minyak Karo Mejuah-juah dengan pemilik Prima Takasi Ginting merupakan salah satu mitra binaan unggulan CSR Pertamina Patra Niaga.”Dengan rata-rata omset Rp100 juta per bulan, UMKM ini memproduksi minyak tradisional khas Karo dan produk herbal khas Karo lainnya,” ungkap dia.

Selain bantuan dana, Pertamina juga melakukan pembinaan berupa pelatihan, pameran atau bisnis matching. Sehingga kini, UMKM Minyak Karo Mejuah-juah sudah go global.

Minyak Karo Mejuah-juah juga merupakan salah satu UMKM yang mengikuti pembelajaran kurikulum UKM Akademi, yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir.

Sebagai salah satu produk warisan budaya, tuturnya, Minyak Karo Mejuah-juah memiliki peluang pasar yang cukup besar. “Nilai sejarah budaya sebagai peninggalan produk warisan menjadi daya tarik sendiri bagi usaha Prima Ginting. Bisa memiliki nilai estetika lebih dan tersendiri ketika hadir di pasar dunia. Karenanya Pertamina menilai Prima Ginting sebagai UMKM yang pantas dikembangkan,” tandasnya.

Reporter : Siti Amelia

 

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Pelindo Regional 1 Belawan dan BRI Medan Perkuat Sinergi untuk Peningkatan Layanan

mimbarumum.co.id – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 1 Belawan menerima kunjungan Kepala Kantor Wilayah BRI Medan bersama jajaran dalam...