HIDUP ini sering terasa seperti jalan panjang yang penuh persimpangan. Ada orang yang berjalan cepat, ada yang lambat, ada yang bahkan berhenti karena takut. Tetapi mereka yang berani melangkah dengan mimpi—merekalah yang memberi warna pada perjalanan.
Mimpi bukan sekadar bunga tidur. Ia adalah benih masa depan yang ditanam di dalam hati. Ketika kau percaya pada mimpi, kau sebenarnya sedang percaya pada potensi terbaik dirimu.
Seperti ditulis Paulo Coelho dalam The Alchemist (1988): “It’s the possibility of having a dream come true that makes life interesting.” (Kemungkinan sebuah mimpi terwujudlah yang membuat hidup ini menarik.)
Bayangkan, hidup yang terasa hambar bisa tiba-tiba menjadi indah hanya karena kau punya sesuatu untuk diperjuangkan.
Dan, Eleanor Roosevelt pernah menegaskan: “The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.” (Masa depan dimiliki oleh mereka yang percaya pada indahnya mimpi.)
Kalimat ini sederhana tapi kuat. Seolah ia sedang berbisik: jika kau ingin tahu siapa pemilik masa depan, lihatlah siapa yang berani bermimpi hari ini.
Namun, jangan kira perjalanan menuju mimpi selalu mulus. Kadang kau ditertawakan, diragukan, bahkan ditinggalkan. Di titik itu, ingatlah kata Rumi dalam “The Essential Rumi” (1995):
“Don’t get lost in your pain, know that one day your pain will become your cure.” (Jangan tenggelam dalam lukamu, ketahuilah suatu hari lukamu akan menjadi penawar.)
Artinya, kegagalan dan luka yang kau alami saat mengejar mimpi justru bisa menjadi obat yang membentuk ketangguhanmu.
Mimpi itu seperti cahaya bintang. Mungkin tak bisa digapai dengan tangan, tapi cukup untuk menuntun langkah di malam yang gelap.
- Jangan takut untuk bermimpi, karena setiap mimpi adalah doa yang sedang menunggu waktunya dikabulkan.
- Jangan takut untuk bermimpi, sebab Allah tidak akan membiarkan langkahmu sia-sia.
- Jangan takut untuk bermimpi, karena dunia ini bergerak maju oleh orang-orang yang berani membayangkan yang mustahil.
Dan, bila dunia berkata “tidak mungkin”, tersenyumlah lalu jawab dalam hatimu: “Aku tidak takut, karena aku sedang berjalan bersama mimpiku.”
Walloohu A’lamu Bisshowaab.
• Penulis: Hendy Mattaro Damanik, mantan perwira TNI AL, pernah menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta, Anggota DPRD Kota Medan 1999-2004
• Editor: Suyadi San


