Di Deliserdang, terutama di Tembung, macet sudah seperti azan lima waktu. Datang setiap hari. Bedanya, kalau azan bikin hati adem, macet bikin kepala panas. Dari jembatan Titi Sewa sampai ke jembatan Titi Tembung, lalu merambat ke simpang tiga Bandar Setia hingga depan eks kantor camat Percut Sei Tuan, arus kendaraan tersendat macam nadi tersumbat lemak.
Jalan Beringin Pasar 7 juga sama. Baik di persimpangan jembatan menuju Perumnas Mandala maupun di persimpangan tiga Jalan Pasar 7 Simpang Jodoh. Angkot KPUM Lin 51- 7 menjadikan jalan sempit itu macam terminal. Nunggu penumpang sambil berjejer. Sedikitnya ada 10 kendaraan berwarna kuning yang mangkal disitu. Sopirnya asyik ngobrol sambil hisap rokok. Ada juga yang kencing di badan jalan. Bau pesingnya nyambut siapa saja yang lewat.
Warga sudah lama mengeluh. Di warung kopi, di media sosial, di rapat kampung. “Sudah kami sampaikan ke pemerintah, tapi yang datang cuma janji,” kata Udin, pedagang kelontong. Uniknya, ketika macet sedang parah-parahnya, tak ada petugas yang mengurai. Yang ada malah Pak Ogah. Ngatur lalu lintas ala kadarnya. Lepas itu menengadahkan tangan minta recehan.
Ada juga cerita yang bikin geleng kepala. Sebagian oknum polantas datang bukan pas macet, tapi sebelum atau sesudahnya. Mereka minta difoto seakan sedang mengatur lalu lintas. Biasanya yang motret Pak Ogah juga. Jepret sekali, lalu pergi. Besok paginya, macet lagi, mereka tak ada. Rasulullah Saw sudah bilang, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Amanah bukan buat dipajang di foto.
Kita sering dengar kata-kata, “No Viral No Justice.” Biasanya soal hukum. Kalau viral, baru ada keadilan. Bahkan kalau ada penegakan hukum yang dianggap jauh dari rasa keadilan dan itu terendus wartawan atau netizen, mendadak aparat hukum melakukan koreksi. Korban hukum pun merasa lega, lalu istilah itu jadi populer. Tapi di Deliserdang lain cerita. Slogan itu tak berlaku. Kemacetan di Tembung sudah mengarat sejak lama. Meski sudah viral di media sosial dan masuk media massa, Pemkab-nya tetap tak tergerak mencari solusi. Aparat kepolisian pun sama saja.
Persimpangan dibiarkan tanpa rambu. Pedagang kaki lima makan badan jalan. Angkot parkir seenaknya. Pemerintah seolah tak melihat. Padahal ini bukan masalah baru. Anak sekolah terlambat. Pekerja dimarahi atasan. Ada yang pulang lagi karena sudah telat. Dalam Islam, melalaikan hak orang lain itu zalim. Dan membiarkan kemacetan ini, zalim juga namanya.
Kalau mau jujur, ini bukan cuma soal macet. Ini soal pemerintah yang tak peduli. Jalan sempit dibiarkan tambah sempit. Pasar liar dibiarkan tambah liar. Terminal bayangan jadi pemandangan harian. Semua dibiarkan mengalir, tapi bukan mengalirkan solusi, malah mengalirkan masalah. Warga hanya jadi penonton. Sementara yang punya kuasa menutup mata.
Macet di Tembung, simpang Jodoh sampai Pasar 8, atau simpang menuju Lubuk Pakam, selalu sama ceritanya. Lambat. Penuh emosi. Tak ada negara di situ. Pemerintah seolah hadir cuma di laporan tahunan. Di lapangan, rakyat mengatur sendiri. Hidup tanpa imam. Padahal di hadapan Allah, nanti yang dihitung bukan foto, tapi kerja nyata.
Kita ini seperti hidup dalam dua dunia. Di dunia laporan, semua rapi, teratur, aman terkendali. Jalan bebas hambatan, pasar tertib, angkot patuh rute. Tapi di dunia nyata, warga bergelut dengan macet, debu, dan sumpah serapah. Sementara para pemangku jabatan duduk di kursi empuk, membicarakan data dan grafik. Seolah grafik itu bisa melancarkan lalu lintas.
Jangan salah, macet bukan hanya bikin waktu habis. Dia juga mematikan rezeki. Pembeli malas datang ke pasar karena susah parkir. Pedagang kehilangan omset. Sopir angkot yang jujur malah kalah sama yang ngetem sembarangan. Dalam pandangan Islam, ini termasuk memutus jalan rezeki orang lain. Dan memutus jalan rezeki sama dengan menzalimi.
Kalau pemerintah serius, ini bisa selesai. Pasang rambu di persimpangan. Tertibkan angkot yang parkir seenaknya. Relokasi pedagang yang menutup badan jalan. Tempatkan petugas di jam padat, bukan cuma datang untuk difoto. Dan yang paling penting, hadirkan hati yang peduli. Karena macet ini tak akan selesai kalau yang punya kuasa hanya peduli di media, tapi absen di jalan.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platforme-paper https://myedisi.com/mimbarumum



